BELITUNG — Setelah sempat melambat tajam pada 2024, ekonomi Kabupaten Belitung menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat sepanjang 2025. Pertumbuhan mencapai 4,06 persen, sekaligus menjadi yang terbaik dalam setengah dekade terakhir.
Berdasarkan Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Belitung per 31 Desember 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku meningkat signifikan. Dari Rp14,12 triliun pada 2024 menjadi Rp15,24 triliun pada 2025, atau naik sekitar Rp1,12 triliun dalam kurun waktu satu tahun.
Posisi Belitung di Peta Ekonomi Babel
Capaian ini menempatkan Belitung di posisi ketiga daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Posisi tersebut menunjukkan pemulihan yang lebih cepat dibandingkan beberapa kabupaten/kota lain di provinsi penghasil timah itu.
Angka 4,06 persen juga menjadi sinyal bahwa roda perekonomian di Negeri Laskar Pelangi mulai bergerak kembali setelah periode perlambatan. Sektor-sektor ekonomi lokal disebut mulai menunjukkan aktivitas yang lebih hidup sepanjang tahun lalu.
Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Belitung
Meski bahan rilis tidak merinci sektor mana yang berkontribusi paling besar, tren kenaikan PDRB ini mengindikasikan menguatnya aktivitas ekonomi di tingkat kabupaten. Pariwisata, perdagangan, dan sektor jasa kerap menjadi penopang utama perekonomian Belitung.
Namun demikian, pemerintah kabupaten perlu menjaga momentum ini. Konsistensi kebijakan dan stabilitas harga menjadi kunci agar pertumbuhan tidak hanya terjadi satu tahun, tetapi berkelanjutan hingga tahun-tahun mendatang.
Prospek Ekonomi Belitung ke Depan
Dengan dasar yang lebih kuat di 2025, pemerintah kabupaten memiliki ruang fiskal lebih besar untuk menggerakkan program pembangunan. Pertumbuhan PDRB yang positif juga menjadi modal penting dalam perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ke depan.
Masyarakat pelaku usaha di Belitung diharapkan ikut merasakan dampak dari pemulihan ini. Perputaran uang yang lebih cepat di pasar lokal biasanya menjadi indikator pertama yang dirasakan langsung oleh pedagang dan pelaku UMKM.