KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) memikul status rumah sakit rujukan nasional. Konsekuensinya, tingkat keterisian tempat tidur hampir selalu penuh. Kondisi inilah yang memperpanjang waktu tunggu pasien untuk dipindahkan dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) ke ruang perawatan intensif.
"Prinsipnya di RSCM adalah pusat rujukan nasional, kemungkinan besar RSCM penuh itu sangat besar. Tapi apa harus menunggu 8 jam itu tergantung situasi, kalau kosong ya lebih cepat dari itu," kata Azhar di Jakarta, Kamis (6/8).
Bukan Kamar Rawat Inap Biasa, Pasien Butuh HCU
Azhar menjelaskan, kondisi Yurizal tidak memungkinkan untuk ditempatkan di ruang rawat inap standar. Pasien membutuhkan penanganan khusus di HCU—unit transisi antara ICU dan ruang perawatan biasa yang jumlah tempat tidurnya sangat terbatas.
"Kondisi pasien yang meninggal dan viral itu memang menunggu 8 jam karena butuh HCU yang jumlahnya terbatas dan bukan kamar rawat inap biasa," ujarnya.
Selain itu, Yurizal disebut memiliki penyakit penyerta dengan tingkat keparahan berat. Kendati demikian, Kemenkes belum membuka data rinci keterisian HCU RSCM pada hari kejadian, termasuk jumlah pasien antre dan durasi tunggu rata-rata harian.