MENTOK — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mengundang sejumlah instansi dalam rapat koordinasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG Pangkalpinang, Polres Bangka Barat, Kodim 0431/Bangka Barat, Kejari Bangka Barat, PDAM Tirta Sejiran Setason, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait turut hadir dalam forum tersebut.
Wakil Bupati Bangka Barat Yus Derahman mengatakan, rapat ini menjadi wadah untuk menyamakan persepsi antara pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. "Kita telah melakukan rapat koordinasi untuk menyatukan strategi pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya dalam menghadapi ancaman bencana saat musim kemarau," ujarnya di Mentok, Rabu.
Ancaman Bencana di Bangka Barat Tak Hanya Karhutla
Kabupaten Bangka Barat memiliki skor risiko bencana Indonesia yang masuk kategori tinggi. Selain karhutla, potensi bencana lain yang perlu diantisipasi sejak dini meliputi banjir, gempa bumi, tanah longsor, gelombang ekstrem, abrasi, cuaca ekstrem, dan kekeringan.
Yus menekankan bahwa karhutla menjadi ancaman serius karena dampaknya meluas. Kebakaran lahan tidak hanya merusak lingkungan dalam skala besar, tetapi juga menurunkan kualitas kesehatan masyarakat dan mengganggu aktivitas ekonomi.
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pencegahan
"Penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja, namun dibutuhkan sinergisitas seluruh elemen untuk mencegah terjadinya kebakaran yang akan berdampak luas terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi," kata Yus.
Melalui penguatan koordinasi ini, setiap pihak diminta bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. "Dengan penguatan kerja sama lintas sektor ini kita ingin bersama-sama bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing agar bisa menekan tingkat risiko tersebut," tambahnya.
Kewaspadaan Ditingkatkan Saat Cuaca Ekstrem
Rapat koordinasi ini dinilai penting dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla yang biasanya meningkat saat cuaca ekstrem dan musim kering. "Rapat koordinasi ini penting dilakukan agar kita bisa bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla yang biasanya meningkat saat cuaca ekstrem dan musim kering, seperti saat ini," jelas Yus.
Pemkab Bangka Barat berharap penguatan kerja sama ini mampu mendorong upaya pencegahan dan penanggulangan bencana yang lebih efektif. Karhutla, cuaca ekstrem, dan kekeringan merupakan bencana yang berdampak besar terhadap lingkungan, kesehatan, dan perkembangan masyarakat, sehingga langkah antisipasi harus dilakukan sedini mungkin.