PANGKALPINANG — Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kembali menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan data resmi yang dirilis Senin, BPS mencatat inflasi tahunan mencapai 2,62 persen, didorong oleh kenaikan harga berbagai komoditas pangan dan energi di pasaran.
Kepala BPS Kepulauan Babel, Sugeng Arianto, menjelaskan bahwa kenaikan indeks harga konsumen ini terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kondisi ini menggambarkan tekanan daya beli masyarakat yang masih berlanjut, terutama untuk kebutuhan pokok sehari-hari.
Transportasi dan Perawatan Pribadi Catat Kenaikan Tertinggi
Dari sebelas kelompok pengeluaran yang dihitung BPS, hanya kelompok pendidikan yang mengalami deflasi tahunan sebesar 4,79 persen. Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi, yakni mencapai 5,63 persen.
Kelompok transportasi menyusul dengan kenaikan signifikan sebesar 4,29 persen. Sementara itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau—yang menjadi kontributor utama inflasi—tumbuh 3,25 persen secara tahunan.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,55 persen, pakaian dan alas kaki 1,92 persen, serta kesehatan 1,47 persen. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga naik 1,46 persen.
Emas Perhiasan hingga Bensin Dominasi Andil Inflasi
Sugeng merinci sejumlah komoditas yang memberikan andil dominan terhadap inflasi tahunan di Babel. Harga emas perhiasan, cumi-cumi, dan angkutan udara menjadi penyumbang terbesar, diikuti oleh bensin dan ikan kembung.
Komoditas lain yang turut mendorong kenaikan adalah sigaret kretek mesin (SKM), beras, bahan bakar rumah tangga, serta udang basah. Ikan tenggiri, nasi dengan lauk, ikan bulat, dan pelumas atau oli mesin juga disebut memberikan sumbangan signifikan terhadap laju inflasi.
Daftar komoditas pemicu inflasi lainnya meliputi minyak goreng, sigaret kretek tangan (SKT), daging sapi, ikan ekor kuning, air kemasan, sepeda motor, dan kopi bubuk. Tingginya harga komoditas ini secara langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga di Pangkalpinang dan kabupaten/kota lain di Babel.
Bawang Merah dan Daging Ayam Ras Jadi Penahan Laju Inflasi
Meski secara umum harga naik, BPS mencatat sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan membantu menahan laju inflasi. Bawang merah, daging ayam ras, dan cabai rawit menjadi komoditas utama yang memberikan sumbangan deflasi secara tahunan.
Selain itu, harga sawi hijau, kelapa, kentang, dan tomat juga dilaporkan turun. Beberapa komoditas lain seperti popok bayi sekali pakai, tauge atau kecambah, sabun detergen bubuk, nanas, kerang, serta sabun cair dan pengharum cucian turut mengalami penurunan harga.
Makanan ringan atau snack juga tercatat memberikan andil terhadap deflasi tahunan di provinsi yang dikenal dengan sektor pertambangan timah ini. Turunnya harga komoditas tersebut sedikit banyak meringankan beban belanja rumah tangga di tengah kenaikan harga pangan dan energi.
Data ini menjadi perhatian bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk terus memantau ketersediaan pasokan dan stabilitas harga di pasar, terutama menjelang periode-periode puncak permintaan masyarakat.