PANGKALPINANG — BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi hujan dengan intensitas bervariasi di sejumlah kota besar Indonesia pada hari ini. Prakirawan BMKG, Afif Shalahuddin, menjelaskan kondisi tersebut dipicu oleh daerah konvergensi yang memanjang di beberapa wilayah, mulai dari Selat Malaka, pesisir barat Sumatera, hingga Papua Pegunungan.
Kondisi konvergensi ini mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilewatinya. Dampaknya, potensi cuaca ekstrem meningkat di sejumlah titik.
Kota Besar Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang
BMKG memprakirakan Tanjung Selor menjadi satu-satunya kota besar yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang. Wilayah lain seperti Banda Aceh, Medan, dan Pontianak diprediksi mengalami hujan ringan hingga sedang.
Selain itu, sejumlah kota seperti Bandung, Semarang, Ambon, dan Jayapura juga masuk dalam daftar wilayah dengan potensi hujan ringan hingga sedang pada hari ini.
Daftar 20 Kota yang Diprediksi Berawan
Berbeda dengan wilayah lainnya, Pangkalpinang termasuk dalam daftar kota yang diprakirakan hanya berawan. Berikut daftar lengkapnya:
- Pekanbaru
- Jambi
- Pangkal Pinang
- Palembang
- Bengkulu
- Jakarta
- Yogyakarta
- Banjarmasin
- Palangkaraya
- Denpasar
- Mataram
- Kupang
- Makassar
- Kendari
- Palu
- Gorontalo
- Manado
- Ternate
- Sorong
Imbauan untuk Pengelola PLTA Saat El Nino
Sebelumnya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengimbau para pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di seluruh Indonesia untuk merencanakan penggunaan air secara terukur. Langkah ini untuk mengantisipasi lonjakan beban listrik selama fenomena El Nino.
"Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya," kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7).
Ia menambahkan, lonjakan konsumsi energi nasional kerap terjadi bersamaan dengan penurunan cadangan air waduk saat cuaca panas hingga kekeringan melanda.