Ancaman terhadap privasi digital tidak selalu datang dari peretas atau malware. Dalam episode terbaru podcast Security Bite dari 9to5Mac, Miguel Fornés dari Incogni mengungkap bahwa bahaya yang lebih senyap justru datang dari data broker — perusahaan yang mengumpulkan, menganalisis, dan menjual informasi pribadi pengguna tanpa sepengetahuan mereka.
Dari Mana Data Pribadi Anda Bocor?
Informasi yang dikumpulkan data broker berasal dari berbagai sumber. Mulai dari catatan publik seperti data kepemilikan properti dan registrasi pemilih, hingga data yang bocor dari aplikasi gratis, survei online, dan riwayat belanja.
Fornés menjelaskan bahwa data ini kemudian digabungkan untuk membentuk profil yang sangat personal. “Mereka tahu di mana Anda tinggal, berapa penghasilan Anda, apa riwayat kesehatan Anda, bahkan preferensi politik Anda,” katanya dalam podcast tersebut.
Pembeli Data: Perusahaan Iklan hingga Skema Penipuan
Data yang sudah diolah ini dijual ke berbagai pihak. Perusahaan iklan membelinya untuk menargetkan promosi secara presisi. Namun, yang lebih mengkhawatirkan, data ini juga bisa jatuh ke tangan pelaku penipuan atau perusahaan asuransi yang ingin menaikkan premi berdasarkan profil risiko seseorang.
Fornés menyebut bahwa praktik ini sudah menjadi industri senilai miliaran dolar. Tidak ada regulasi ketat di banyak negara yang mengatur bagaimana data broker boleh mengumpulkan dan menjual data — termasuk di Indonesia.
AI Memperparah Ancaman yang Sudah Ada
Kehadiran AI mempercepat dan memperluas kemampuan data broker. Dengan algoritma machine learning, profil yang tadinya hanya berupa kumpulan data mentah kini bisa digunakan untuk memprediksi perilaku masa depan seseorang — seperti kapan seseorang akan mencari pinjaman, atau apakah seseorang sedang hamil.
“AI membuat data yang tadinya ‘dingin’ menjadi sangat ‘panas’,” ujar Fornés. “Data yang dikumpulkan lima tahun lalu bisa kembali digunakan untuk membuat keputusan yang memengaruhi hidup Anda hari ini.”
Incogni, perusahaan tempat Fornés bekerja, menyediakan alat untuk membantu individu memeriksa jejak digital mereka dan meminta penghapusan data dari basis data broker. Langkah ini menjadi penting karena sebagian besar pengguna tidak sadar bahwa data mereka telah diperjualbelikan.
Regulasi Masih Tertinggal, Pengguna Harus Proaktif
Di Amerika Serikat dan Eropa, sejumlah undang-undang mulai diajukan untuk membatasi praktik ini, termasuk larangan bagi perusahaan AI menjual data kesehatan. Namun, di Indonesia, belum ada regulasi spesifik yang membahas praktik data broker secara langsung.
Podcast ini juga menyoroti bahwa data broker bahkan menggunakan formulir palsu untuk tetap bisa menjual data pengguna meskipun sudah ada upaya pembatasan. Artinya, kesadaran dan langkah proaktif dari pengguna menjadi pertahanan terakhir.
Bagi pengguna di Indonesia, langkah paling sederhana adalah mulai membatasi informasi yang dibagikan secara publik, menolak pelacakan dari aplikasi, dan secara berkala memeriksa akun-akun online yang sudah tidak digunakan.