KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Keputusan pemerintah memperluas insentif kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) ke kendaraan hybrid berbasis mesin pembakaran internal (ICE) pada Desember 2024 mendapat sorotan tajam. Riset terbaru InfluenceMap, lembaga analis kebijakan iklim, menemukan bahwa perluasan tersebut didorong oleh advokasi sistematis dari pabrikan Jepang dan asosiasi Gaikindo. Langkah ini dinilai justru bertentangan dengan target Presiden Prabowo Subianto mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor melalui elektrifikasi.
Desember 2024: Insentif BEV Diperluas ke Hybrid
Muhammad Risky, Analis Indonesia di InfluenceMap, memaparkan dalam konferensi daring Jumat (24/7) bahwa sejak keputusan itu, industri otomotif terus mendorong pemberian insentif bagi kendaraan berbasis ICE. "Toyota, Honda, Suzuki, dan Gaikindo mengadvokasi dukungan kebijakan berkelanjutan untuk kendaraan hibrida, yang berpotensi menunda transisi BEV di Indonesia," ujarnya.
Menurut Risky, ketiga pabrikan Jepang tidak hanya menguasai pangsa pasar, tetapi juga menempati posisi kepemimpinan strategis di Gaikindo. Hal ini membuat pengaruh mereka terhadap arah dekarbonisasi sektor transportasi sangat signifikan.
Tiga Narasi Industri yang Dibantah Analis
Ada tiga argumen utama yang terus digaungkan oleh Toyota, Honda, Suzuki, dan Gaikindo. Pertama, insentif bagi kendaraan ICE akan mendorong pertumbuhan pasar. Kedua, kendaraan hybrid lebih sesuai dengan kondisi jalan Indonesia. Ketiga, kebijakan dekarbonisasi harus bersifat "technology neutral".
Namun analisis InfluenceMap membantah ketiganya. "Penjualan EV di Indonesia telah tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir," kata Risky. Ia menambahkan bahwa penelitian menunjukkan BEV mampu menghasilkan pengurangan emisi jauh lebih besar dibandingkan hybrid, bahkan dengan bauran listrik Indonesia saat ini.
Advokasi Terkoordinasi Lintas Pasar
Temuan ini memperkuat riset sebelumnya yang menunjukkan Toyota dan Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) menjalankan strategi terkoordinasi di sejumlah pasar berkembang, termasuk Indonesia, untuk memperlambat transisi kendaraan listrik. Risky menekankan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar membuat dekarbonisasi dan ketahanan energi menjadi dua isu yang tidak terpisahkan. "Banyak usulan dari industri justru mengarah ke arah yang berlawanan, yaitu memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil dari luar negeri," tegasnya.
Belum Ada Tanggapan dari Gaikindo
CNN Indonesia telah menghubungi pihak Gaikindo untuk meminta tanggapan atas tuduhan ini, namun hingga berita diturunkan belum ada respons. Sementara itu, pemerintah dijadwalkan mengumumkan paket insentif baru pada akhir tahun ini, yang kembali menjadi arena tarik-ulur antara target dekarbonisasi dan kepentingan industri ICE.