PANGKALPINANG — Kepala BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Fazar Supriadi Sentosa mengungkapkan, realisasi bantuan rehab rumah tidak layak huni (RTLH) sudah mencapai 52 persen dari target 486 rumah pada tahun ini. Program ini merupakan bagian dari upaya menekan angka stunting yang masih tergolong tinggi di provinsi tersebut.
Menurut data BKKBN, angka stunting di Bangka Belitung mencapai 20,1 persen. Artinya, dari 100 ibu yang melahirkan, sekitar 20 bayi mengalami stunting. Angka ini menempatkan Babel pada peringkat ke-12 nasional dalam merealisasikan rumah layak huni bagi keluarga berisiko stunting.
Stunting Bukan Hanya Soal Makanan
Fazar menekankan bahwa stunting tidak semata-mata disebabkan oleh faktor asupan gizi. Kondisi tempat tinggal yang tidak sehat, seperti kurangnya jamban dan akses air bersih, juga berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.
"Stunting ini bukan karena faktor makanan saja, tetapi kondisi tempat tinggal atau rumah yang tidak sehat juga sangat mempengaruhi stunting ini," ujar Fazar di Pangkalpinang, Sabtu lalu.
Ia menambahkan, "Meski anak-anak ini diberikan makanan bergizi, tetapi kondisi rumah, jamban dan air bersih tidak layak tetap saja akan mengakibatkan balita di keluarga tersebut mengalami stunting."
Kolaborasi dengan Pemda dan BUMN
Untuk merealisasikan target rehab RTLH sebanyak 486 rumah, BKKBN Babel berkolaborasi dengan pemerintah daerah, perusahaan BUMN, dan swasta. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat penurunan angka stunting di wilayah kepulauan tersebut.
Fazar optimistis target tahun ini dapat tercapai. "Saat ini, kita sudah diperingkat 12 nasional dalam merealisasikan rumah layak huni bagi keluarga berisiko stunting ini dan kami optimis target tahun ini tercapai dengan baik," katanya.
Program rehab RTLH menjadi salah satu intervensi spesifik yang dijalankan BKKBN bersama pemangku kepentingan. Dengan perbaikan lingkungan tempat tinggal, risiko stunting pada balita diharapkan dapat ditekan secara signifikan.