PANGKALPINANG — Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama: dr Rahmadi Iwan Guntoro, Sp.P, yang merupakan orang tua dari anak berkebutuhan khusus, dan Iin Indriyani, konsultan dari Rumah Indira. Keduanya menyampaikan materi tentang cara kerja otak ABK, metode penanganan, hingga pola pengasuhan yang tepat di rumah.
Rosmeri, salah satu orang tua peserta, mengaku baru pertama kali mengikuti seminar semacam ini. Ia baru beberapa waktu lalu mengetahui bahwa anaknya mengalami autis.
"Saya senang mengikutinya karena banyak yang bisa saya terapkan di rumah dalam proses pengasuhan yang mungkin selama ini saya abai, misalnya dengan memeluk dan memberikan rasa aman," ujarnya.
Bantuan Terapi Online untuk 10 Anak ABK
Selain seminar, PT TIMAH juga memberikan bantuan biaya terapi online bagi 10 anak berkebutuhan khusus dari tujuh sekolah di Bangka Belitung. Bantuan ini merupakan perluasan dari program sebelumnya yang hanya berupa seminar untuk guru dan orang tua.
"Saya bangga ada perusahaan besar yang peduli dengan anak ABK, bahkan PT TIMAH sudah 4 tahun berturut secara berkelanjutan menghadirkan program ini. Kalau tiga tahun lalu hanya dalam bentuk seminar, tahun ini PT TIMAH juga memberikan terapi online gratis bagi 10 anak," kata Iin Indriyani usai menyampaikan materi.
Peserta Datang dari 7 Sekolah di Babel
Peserta seminar berasal dari SLBN Pangkalpinang, SLB YPAC Pangkalpinang, Sekolah Alam Pangkalpinang, Sekolah Alam Bangka Belitung, SLBN Sungailiat, SD IT Biruni Sungailiat, dan SLB N Koba.
Kepala SLB Negeri Sungailiat Warsih Sri Wahyuni menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak ABK, tidak hanya mengandalkan pihak sekolah.
"Rumah yang didalamnya ada orang tua punya peran sangat penting. Kami apresiasi PT TIMAH yang sudah memulai dan melaksanakan ini secara berkelanjutan," ucapnya.
Harapan Sinergi Program Keterapian ke Depan
Kasubbag Tata Usaha UPTD Pendidikan Inklusi Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Fajar Novianti mengapresiasi langkah konkret PT TIMAH. Ia menyebut anak berkebutuhan khusus memerlukan pola pendidikan yang berbeda dan perlu dukungan semua pihak.
"Kemarin saja di Kecamatan Riau Silip ada 100 lebih anak berkebutuhan khusus, tentu ini butuh peran semua pihak. Kami berharap program ini bisa berkesinambungan," katanya.
Fajar juga berharap ke depan PT TIMAH dapat bersinergi dalam program keterapian bagi ABK, mengingat jumlah anak berkebutuhan khusus yang terus bertambah di Bangka Belitung.