KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Blok migas yang dikelola anak usaha Pertamina ini bukan lagi sekadar aset eksplorasi. Kini, fokus utama adalah mengoptimalkan produksi dari sumur-sumur eksisting sembari melakukan pengeboran baru untuk mengejar target produksi yang lebih tinggi.
Kepala Perwakilan SKK Migas Jabar, Jatirta, dan Jatim, Danang Sidi Pradana, menegaskan pentingnya peran blok ini bagi perekonomian regional. "Kami mendorong percepatan pengeboran di WK Pangkah untuk menjaga keberlanjutan produksi," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip pekan ini.
Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan konsentrasi pabrik dan kawasan industri terpadat di Indonesia. Sektor seperti petrokimia, pupuk, hingga manufaktur kaca sangat bergantung pada pasokan gas yang stabil. Jika pasokan terganggu, biaya produksi bisa membengkak karena industri terpaksa beralih ke bahan bakar minyak (BBM) yang lebih mahal.
Keberadaan WK Pangkah yang berlokasi strategis di perairan Gresik memberikan keuntungan logistik. Gas yang diproduksi tidak perlu disalurkan melalui pipa transmisi jarak jauh, sehingga biaya transportasi lebih efisien dan harga jual ke industri bisa lebih kompetitif.
Pertamina tidak hanya mengandalkan fasilitas produksi yang sudah ada. Perusahaan berencana menambah beberapa sumur pengembangan baru dalam waktu dekat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk menahan laju penurunan produksi gas alam yang kerap terjadi pada sumur-sumur tua.
Selain mengebor sumur baru, efisiensi operasional juga menjadi perhatian. Penggunaan teknologi untuk memperpanjang umur sumur dan optimalisasi fasilitas pemrosesan darat menjadi kunci agar target produksi yang disepakati dengan SKK Migas dapat tercapai.
Dengan adanya kepastian pasokan dari blok ini, investor industri di Gresik dan sekitarnya memiliki jaminan energi untuk mengembangkan kapasitas pabrik. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah menarik investasi di sektor hilir.
Pasokan gas yang andal dari WK Pangkah akan membantu menekan biaya operasional pabrik. Pada akhirnya, hal ini berpotensi menjaga daya saing produk manufaktur lokal di pasar ekspor. Selain itu, produksi yang stabil juga berkontribusi pada penerimaan negara dari sektor migas.
Keberhasilan pengelolaan blok ini menjadi indikator penting kemampuan BUMN dalam mengelola aset migas di dalam negeri. Dengan pengalaman dan teknologi yang dimiliki, Pertamina diharapkan mampu memaksimalkan nilai tambah sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat luas.