KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Penerbit stablecoin terbesar mencatat kepemilikan surat utang AS sekitar US$141 miliar per awal 2026. Angka ini lebih besar dari portofolio Surat Berharga Negara yang dimiliki banyak bank sentral negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rapat Dewan Gubernur BI pada 21-22 Juli yang menahan suku bunga di level 5,75% mempertegas postur pertahanan rupiah yang dimainkan di luar kanal suku bunga. Namun celah struktural justru terbuka lebar di sektor aset digital.
Dolarisasi era digital berlangsung sunyi. Tidak ada antrean panjang di pedagang valuta asing seperti era 1998. Cukup beberapa sentuhan layar, tabungan masyarakat berpindah patokan dari rupiah ke dolar melalui stablecoin, dan regulator tetap membaca data yang tampak tenang.Eropa merespons dengan menulis ulang regulasi aset digital MiCA untuk membendung dominasi stablecoin dolar sambil menumbuhkan penerbit berbasis euro. Jepang mengambil langkah lebih maju dengan memberikan lisensi kepada penerbit swasta, dan yen digital pertama dari penerbit berizin mulai beredar akhir 2025.