KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kabar baik bagi pemilik kendaraan diesel dan pengguna BBM beroktan tinggi. Mulai awal Juli lalu, tiga operator SPBU besar di Indonesia—Pertamina, Shell, dan BP-AKR—secara bersamaan mengoreksi harga jual produk nonsubsidi mereka. Penurunan paling signifikan terjadi di segmen solar nonsubsidi yang sempat menyentuh Rp25.000 per liter pada Juni lalu.
PT Pertamina (Persero) memimpin penurunan dengan memangkas harga Dexlite (CN 51) di wilayah Jabodetabek dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter. Artinya, ada penghematan Rp3.300 per liter untuk pengguna solar dengan cetane number 51. Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) turun lebih dalam, dari Rp24.800 ke Rp21.150 per liter—potongan Rp3.650 per liter.
Di lini bensin, Pertamax Turbo (RON 98) juga ikut turun. Harganya kini Rp19.300 per liter, lebih murah Rp1.450 dari posisi Juni yang sebesar Rp20.750. Untuk produk reguler seperti Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95), Pertamina masih mempertahankan angka masing-masing di Rp16.250 dan Rp17.000 per liter.
Shell Indonesia dan BP-AKR menerapkan strategi yang nyaris identik. Shell V-Power Diesel yang bulan lalu masih Rp24.490 per liter kini turun menjadi Rp21.340. Begitu pula BP Ultimate Diesel yang sebelumnya Rp25.060 per liter, kini juga dipatok Rp21.340. Artinya, konsumen kedua merek ini sama-sama menikmati penurunan lebih dari Rp3.000 per liter.
Untuk produk bensin, Shell belum mengumumkan harga baru untuk Shell Super (RON 92), Shell V-Power (RON 95), dan Shell V-Power Nitro+ (RON 98). Sementara BP-AKR membanderol BP 92 seharga Rp16.670 per liter dan BP Ultimate Rp17.240 per liter.
Pemain keempat di pasar BBM nonsubsidi, Vivo Energy Indonesia, tidak ketinggalan. Vivo membanderol Diesel Primus dengan harga Rp21.340 per liter, sama persis dengan kompetitor. Untuk bensin, Revvo 92 dijual Rp16.670 per liter dan Revvo 95 seharga Rp17.240 per liter.
Dengan penurunan ini, selisih harga antara solar nonsubsidi Pertamina dengan merek asing semakin tipis. Konsumen yang sebelumnya beralih ke Pertamina Dex karena perbedaan harga yang besar kini punya opsi lebih beragam dengan banderol yang hampir setara.