Pencarian

Morinaga Door of Future Surabaya: Kenali Potensi Anak Sejak Dini

Sabtu, 10 Oktober 2026 • 09:07:02 WIB
Morinaga Door of Future Surabaya: Kenali Potensi Anak Sejak Dini
Psikolog Dessy Sagita memaparkan konsep multiple intelligences dalam talk show Morinaga Door of Future di Grand Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya, Jumat (9/10/2026).

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Psikolog Dessy Sagita mengingatkan bahwa nilai akademik bukan satu-satunya penanda kecerdasan anak. Dalam talk show Morinaga Door of Future di Tunjungan Plaza 6 Surabaya, orang tua diajak memahami sembilan jenis kecerdasan lewat konsep multiple intelligences agar bisa mendampingi anak sesuai minat aslinya.

Morinaga Door of Future hadir di Grand Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya pada Jumat (9/10/2026) dengan rangkaian acara edukasi untuk keluarga. Acara ini berlangsung tiga hari, dari Jumat hingga Minggu (11/10), dan menyediakan berbagai aktivitas mulai dari pertunjukan, permainan interaktif, hingga perlombaan anak.

Anakku Pintar di Mana, Ya? Kenali Potensinya

Sesi talk show bertajuk "Anakku Pintar di Mana, Ya? Kenali Potensinya, Let Them Be Children" menghadirkan psikolog Dessy Sagita. Ia menjelaskan konsep multiple intelligences yang mencakup sembilan jenis kecerdasan: naturalis, musikal, logika-matematika, interpersonal, intrapersonal, linguistik, spasial, kinestetik, dan eksistensial.

Setiap anak memiliki kombinasi kecerdasan yang berbeda, sehingga tidak adil jika hanya diukur dari kemampuan berhitung atau membaca. "Kadang orang tua selalu berharap anaknya cerdas di logika-matematika," ujar Dessy di Grand Atrium TP 6, Jumat (9/10/2026).

Anak yang tidak menonjol di pelajaran tertentu belum tentu tidak punya kecerdasan lain. Anak dengan kecerdasan musikal bisa terlihat dari ketertarikannya pada musik, sedangkan kecerdasan kinestetik tampak dari kemampuannya melakukan aktivitas fisik.

Jangan Paksakan Minat Orang Tua ke Anak

Dessy mengingatkan bahwa anak adalah individu yang punya keinginan sendiri, bukan robot yang harus mengikuti semua arahan. Orang tua boleh memberi arahan, tapi tetap perlu memberi ruang bagi anak untuk mengenali minatnya.

"Anak itu individu, bukan robot. Mereka punya keinginan sendiri. Kita boleh mengarahkan, tetapi minat anak adalah minat mereka. Jangan sampai mereka mengikuti minat kita yang dipaksakan," jelasnya.

Ia juga mengajak orang tua mengevaluasi kebiasaan memberi label pada anak, seperti nakal, cerewet, cengeng, atau malas. Sebutan itu perlu dilihat kembali berdasarkan perilaku dan situasi yang melatarbelakanginya.

Manfaatkan Multiple Intelligence Play Plan

Senior Brand Manager Morinaga, Kenty Novita Pratiwi, mengatakan orang tua bisa memanfaatkan Multiple Intelligence Play Plan (MIPPL) untuk mendapat gambaran potensi kecerdasan anak. Pengunjung juga bisa mencoba pengalaman brainwave untuk melihat respons anak saat mendapat stimulasi.

"Jadi saat Si Kecil distimulasi kita bisa lihat nih gelombang otak yang dominan muncul apa. Kita mengajak orangtua untuk bisa tau potensi apa yang dimiliki anaknya, karena setiap anak itu unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda-beda," tuturnya.

Ada pula aktivitas interaktif seperti emotion mirror, prototype chamber, Beat builder, Gromax, dan Soyalympic yang bisa diikuti anak bersama orang tua.

Rangkaian Lomba dan Pertunjukan Anak

Hari pembukaan diisi penampilan robot humanoid yang menari, parade bertema Future of Profession, serta pertunjukan tari anak dari Sanggar Tari Prastika. Lomba Future Icon Story Telling kategori usia 1-3 tahun dan 4-6 tahun masing-masing diikuti 15 anak.

Ada juga School Dance Competition dan Future Icon Dancing Competition dengan kategori individu dan tim. Para juara mendapat trophy, bingkisan, dan uang tunai.

Keseruan berlanjut pada Sabtu (10/10) dan Minggu (11/10) dengan lomba fashion show, baby dancing, hingga sesi edukasi bersama dokter. Kenty menyebut kuota sejumlah perlombaan sudah ditutup karena pendaftar melampaui kapasitas.

Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog Anak

Jika ibu merasa bingung dengan perkembangan atau perilaku anak, konsultasi dengan psikolog anak bisa membantu memberi gambaran yang lebih objektif. Dessy menegaskan bahwa menjadi orang tua adalah proses belajar yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah.

"Anak tidak mau dibandingkan, kita pun juga. Karena mereka juga seorang individu sendiri, punya kehidupan, punya masa lalu, punya pengalaman," bebernya.

Mengenali potensi anak sejak dini membantu ibu memberi stimulasi yang tepat, bukan sekadar mengejar nilai akademik. Dengan memahami bahwa setiap anak punya kombinasi kecerdasan berbeda, pendampingan bisa lebih hangat dan sesuai kebutuhan si Kecil.

Follow www.belitungsatu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks