KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Plt. Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP) Ishartini menyampaikan angka tersebut pada Minggu (13/9/2026). Nilai ekspor itu setara Rp52,6 triliun berdasarkan penghitungan KKP.
Penerimaan negara dari sektor ini bergantung pada sepuluh komoditas yang menyumbang mayoritas volume kiriman. KKP merinci produk unggulan tersebut sebagai berikut:
- Udang vanname
- Rumput laut
- Tuna
- Sarden
- Tenggiri
- Cakalang
- Cumi, sotong, dan gurita
- Karagenan
- Kerapu
- Kepiting dan rajungan
Pasar Ekspor Menyebar ke 152 Negara
Produk perikanan Indonesia kini dipasarkan ke 152 negara, mencakup Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Timur Tengah, Australia, Selandia Baru, dan kawasan Pasifik. Sebaran itu membuat eksportir tidak bergantung pada satu pasar tunggal.
Perluasan pasar tersebut ditopang penerapan sertifikasi mutu dari hulu hingga hilir dengan standar internasional. Tujuannya memastikan kualitas dan keamanan produk yang dikirim ke luar negeri tetap terjaga.
"Ekspor tersebut ditopang sejumlah produk unggulan, antara lain udang vanname, rumput laut, tuna, sarden, tenggiri, cakalang, cumi-sotong-gurita, karagenan, kerapu, serta kepiting dan rajungan," kata Ishartini.
1.162 Perusahaan Kantongi Sertifikasi Mutu KKP
Hingga akhir semester I 2026, sebanyak 1.162 perusahaan perikanan yang memenuhi sertifikasi mutu KKP tercatat melakukan kegiatan ekspor. Rinciannya, 900 unit pengolah ikan, 229 unit pengekspor ikan hidup, dan 33 unit produksi benih ikan.
Jumlah itu menunjukkan basis eksportir yang cukup luas, meski masih terkonsentrasi pada unit pengolahan. Sertifikasi mutu menjadi syarat utama bagi perusahaan yang ingin menembus pasar Eropa dan Amerika yang menerapkan standar ketat.
Dampak ke Ekonomi Daerah dan Tenaga Kerja
Ishartini menyebut kinerja ekspor produk perikanan turut berdampak pada perekonomian daerah dan penyerapan tenaga kerja. Sektor ini menyerap pekerja mulai dari nelayan, pembudidaya, hingga buruh di unit pengolahan ikan.
Bagi pelaku usaha, capaian semester I ini menjadi acuan untuk mengejar target ekspor sepanjang 2026. Kinerja tersebut juga bergantung pada permintaan pasar global dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi daya saing harga.
Investasi mengandung risiko.